Rabu, 04 Mei 2011

MUTU PENDIDIKAN, MAYBE YES MAYBE NO

Yang tersisa dari dari peringatan Hari pendidikan nasional 2 mei lalu

Masih teringiang dalam ingatn kita, sebuah iklan ditelevisi yang setidaknya cukup menarik untuk kita cermatin walau iklan tersebut sudah tidak tayang lagi, yaitu kapan kawin? Mei, Maybe yes maybe no, enjoy aja. Yang jelas tulisan ini tidak ada hubungannya dengan kata-kata mei ataupun bulan mei.

Belum genap satu minggu kita memperingati Hardiknas yang jatuh setiap tanggal 2 Mei, banyak hal banyak cerita menarik terkait dengan dunia pendidikan itu sendiri. Tulisan ini setidaknya adalah puing-puing yang penulis pungut dari sisa-sisa peringatan Hardiknas pada tanggal 2 Mei yang lalu.

Berbicara masalah pendidikan dan khususnya mutu pendidikan, maka akan sangat banyak yang dapat kita rekam, mulai dari kebijakan pemerintah, institusi sekolah, kepala sekolah, siswa, guru dan staekholder lainnya, namun pada tulisan kali ini, penulis lebih mempokuskannya pada masalah guru dan segala problem yang melingkupinya

Bahwa pada era modern yang serba canggih saat ini, dimana bidang teknologi dan informasi memosisikan dirinya sebagai yang terdepan, yang kalau boleh meminjam istilahnya para Futurolog ( Baca: ahli ilmu masa depan ) dikatakan sebagai suatu masa depan yang sulit di prediksikan ( unpredictiable future ), dikarenan oleh perubahan yang sangat cepat dibidang teknologi dan informasi yang akan menimbulkan masyarakat informasi ( information society ).

Lebih lanjut dikatan oleh Futurolog diatas, bahwa ciri dari masyarakat macam ini adalah terjadinya apa yang disebut diinformation through over information ( menjadi tidak tahu karena terlalu banyak di ketahui ), maka pada masa ini, guru sebagai bagian dari dunia pendidikan, harus mampu memosisikan diri sebagai sebuah keniscayaan untuk kemudian mampu bergumul dengan era masa tersebut. Maka secara sederhana, penulis mencoba membagi guru tersebut menjadi dua kutub ekstrim, guru kreatif dan guru stagnan

GURU KREATIF VS GURU STAGNAN
Kemajuan tekhnologi dan informasi akan menimbulkan tuntutan pada sekolah untuk meningkatkan jumlah dan bobot ilmu pengetahuan ilmiah yang disajikan kepada para siswa. Tuntutan-tuntutan masyarakat sebagai akibat dari proses perubahan masyarakat dari tradisional ke modern, dari tertutup menjadi terbuka, dari feodal menjadi demokratis, tentulah merupakan tantangan guru yang tidak ringan. Beberapa alternasi-alternasi dibawah ini, setidaknya memberikan jawaban atas tuntutan, tantangan sekaligus seleksi alam terhadap guru yang kreatif dan guru yang stagnan.

Pertama, guru harus benar-benar menjadi pekerja profesional, yakni hanya dimiliki oleh mereka yang benar-benar karena panggilan hati nurani, dan diperoleh setelah melalui pendidikan khusus dengan capaian ilmu pendudukung yang luas dan mendalam. Guru yang profesional akan memiliki kemampuan belajar ( how to learn ), untuk selanjutnya bisa dipraktikkan konsep pendidikan sepanjang hidup ( long life education ). Guru yang tidak mampu belajar sepanjang hidup hanya akan tertinggal oleh kereta perubahan yang terus berlari menembus ruang dan waktu.

Kedua, guru harus memiliki wawasan pengetahuan umum yang luas. Harus diingat bahwa guru saat ini bukan satu-satunya sumber informasi sebagaimana laiknya guru pada zaman dahulu, sekarang begitu banyak media massa, baik cetak maupun elektronik, dan beberapa konten yang ada di internet seperti Website-website, blog, ataupun laman pertemanan seperti Facebook, twitter, Yahoo massengger yang kesemuanya itu selain berfungsi sebagai kontrol sosial, juga berpungsi education. Maka bagaimana kemudian guru harus mampu media-media tersebut sebagai partner, dan tentunya juga sebagai sumber belajar itu sendiri. Guru yang tidak bergaul akrab dengan media-media tersebut akan tenggelam oleh arus informasi. Karena boleh jadi para siswa justru lebih tahu dari pada gurunya dikarenakan siswa lebih aktif bergumul dengan media tersebut.

Ketiga, memiliki kemampuan untuk menseleksi informasi, memahami dan menganalisis informasi, kemampuan mengembangkan informasi lebih lanjut, dan kemampuan untuk mengembangkan berbagai alternatif dan mengambil keputusan berdasarkan informasi tersebut. Misalnya mengembangkan model model pembelajaran untuk menjelaskan sesuatu yang baru bagi anak didik. selain itu dapat pula mengembangkan bahan ajar yang lebih menarik dan menyenangkan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan konteks satuan pendidikan ( baca: sekolah) masing-masing tentunya dengan sentuhan lembut dari media internet misalnya.

Maka ketika guru tidak mampu memenuhi syarat atau indikasi dari tiga tawaran tersebut, secara tidak langsung dapat dikatakan menjadi guru yang stagnan, dan kalau tidak dikatakan mundur selangkah kebelakang. Kemudian secara sederhana pula, ketika guru dapat memenuhi kriteria-kriteria dari tawaran diatas, maka dapat dikatakan sebagai guru yang kreatif.

Guru yang kreatif tidak akan pernah kering dari proses dan hasil kreasi-kreasi untuk membuat metode, model dan bahan ajar yang tepat guna untuk kelangsungan proses pembelajaran tersebut. Salah satunya yang patut diajungi jempol adalah, apa yang dilakukan oleh salah seorang guru disalah satu Sekolah Menengah Atas ( Baca: SMA ) di Lombok Timur, ( Baca: SMAN 1 Masbagik ), yang mencoba mejawab kekeringan bahan ajar yang disinyalir cukup langka diperpustakaan ataupun di rak-rak buku para guru. Bahan ajar tersebut berupa LKS/Modul mata pelajaran Bahasa Arab untuk tingkat SMA. Kebutuhan akan refernsi bahan ajar tersebut disinyalir sangat mendesak, dikarenakan pelajaran Bahasa Arab ( masuk dalam kategori Bahasa Asing ) di tingkat satuan pendidikan setingkat SMA dan sederajat tergolong masih sangat belia, kalau dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain.

Maka tak pelak sekolah-sekolah lain tidak sedikit yang menggunakan karya tersebut sampai detik ini, karena menurut penelusuran penulis, sampai detik ini, belum ada karya serupa yang diterbitkan secara massal di Nusa Tenggra Barat, bahkan di Indonesia Sekalipun.

Sebagai gambaran ringkas tentang tentang sepak terjang penyusun dalam upaya mengakrabkan karyanya dengan para pembacanya layak untuk diberikan apresiasi, terbukti dengan menyebarnya karya tersebut kebeberapa sekolah diluar pulau Lombok, seperti di Sumbawa, Dompu dan Bima. Bahkan yang lebih menarik adalah pengiriman karya tersebut ke pusat pembuatan karya-karya berupa buku ataupun modul di Jawa ( Baca: Kudus Jateng ). Barangkali tujuan sederhana penyusun yang membuatnya sedemikian rupa yaitu dibawah payung motto Bangga Mencerdskan Anak Bangsa. Bukan semata-mata Bisnis oriented

Tulisan ini merupakan, semacam stimulus dan pada akhirnya mendambakan respon dari para guru untuk kita sama-sama berkarya sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas keilmuan kita. Setidaknya untuk kebutuhan peserta didik kita dimasing-masing satuan pendidikan. Perlu diingat bahwa buku-buku bahkan LKS/Modul dari luar ( Baca: Jawa ) belum tentu sesuai dengan kebutuhan, konteks dimana kita mengajar.

Kalau seandainya semua guru-guru di masing-masing satuan pendidikan mampu berkarya setidaknya sama denga guru yang penulis contohkan diatas, mampu mengoptimalkan dan sekaligus memanfaatkan media seperti internet dengan baik, maka stagnasi pemikiran para guru akan bisa diatasi dan predikat guru kreatif akan melekat dengan sendirinya dan layak disebut apa yang didefinisikan oleh Ki Hajar Dewantara, sebagai Guru Yang di Gugu lan Di Tiru ( contoh ) bukan malah sebaliknya, yaitu guru yang di Guyu Lan Ditinggal Turu ( guru yang ditertawakan kemudian tinggal tidur ( Tambahan Penulis ) dikarenakan oleh metode, cara, bahkan rferensi ataupun bahan ajar yang digunakan sudah usang dan tidak Up todate, dengan demikian setidaknya memberikan sinyal kuat terhadap mutu pendidikan yang sama-sama kita mimpikan.

Dan kalau halnya demikian bisa tercapai, maka dengan sendirinya indek Pembanguan Manusia ( IPM ) Lombok Timur pada khusunya nya dan Indek Pembangunan Manusia ( IPM ) NTB pada umunya tidak lagi tidak lagi berada di nomor sepatu…

….Kaki langit masbagik, ketika hujan rintik-rintik, pulang apel hardiknas di lapangan gotong royong masbagik

Catt: Tulisan ini sudah dimuat di Radar Lombok, Mei 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar