Senin, 16 September 2013
ENAK TENAN JADI PNS.., TIPS DAN TRIK MENENBUS CPNS 2014
Siapa bilang menjadi PNS itu tidak menyenangkan, kenyataaan telah membuktikan bahwa minat menjadi PNS semakin bertambah, karena dengan menjadi PNS anda akan mempunyai keuntungan :
* Keamanan Jaminan Kerja, karena diangkat dengan SK Menteri, Gubernur, Walikota atau Bupati.
* Gaji Pasti dan Tinggi, ada gaji pokok dan berbagai macam jenis tunnjangan
* Lupakan PHK? ... pernah dengar PNS di PHK, jarang sekali kecuali anda melakukan kesalahan-kesalahan berat.
* Punya Jenjang Jabatan yang Jelas.
* Promosi Jabatan. dari Kepala Seksi hingga Dirjen, bahkan Menteri.
* Kuliah dan Training gratis dari pemerintah, baik dari S1 sampai S3.
* Pensiun Dijamin.
* dan banyak lagi
Menjadi Pegawai Negeri Itu Tidak Mudah,
Persaingannya Ketat!!
Benar persaingannya memang ketat, bayangkan Lowongan CPNS yang hanya diperuntukan oleh puluhan orang tetapi di lamar oleh ratusan bahkan ribuan orang . Tetapi tahukan anda bahwa ternyata kesempatan untuk jadi PNS justru tetap besar. Kenapa demikian? karena kenyataannya adalah 85% orang yang mendaftar menjadi CPNS tidak dibekali persiapan yang matang
Sudahkah anda menyiapkan diri untuk mengikuti ujian Tes Penerimaan CPNS ?
Jangan Berperang Sebelum Berlatih dan Jangan Berlatih Dengan Cara yang Biasa
Maksimalkan waktu dan pikiran anda
Menyiapkan diri dan berlatih dengan cara yang biasa tidak akan membuat anda berbeda dengan pesaing-pesaing anda. Gunakan Metode yang lebih baik, ampuh dan canggih sebaik apapun metode yang anda gunakan jangan lupakan sang penentu Sang pengatur semua ini Yaitu TUHAN : ALLAH SWT,,, ORA ET LA BORA ( Belajar sambil berdoa )
Minggu, 14 Agustus 2011
Cara Kilat Belajar Bahasa Arab
Tak diragukan lagi, kedudukan Bahasa Arab di dalam Agama ini sangatlah mulia. Allah subhanahu wata’ala telah memberikan keutamaan yang agung kepada Bahasa Arab. Bahasa Arab dijadikan bahasa Al Qur’an, kitab suci kaum muslimin di seluruh dunia, bahasanya para penghuni surga, bahasanya para Nabi, serta keutamaan lainnya. Di samping itu, Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa tertua di dunia yang kaya akan kaidah struktur dan kosa kata. Maka dari itu, tidak sepantasnya seorang muslim mengabaikan salah satu bagian Agama Islam yang penting ini seperti dikatakan Umar Ibnul Khattab radhiyallahu anhu “Pelajarilah bahasa Arab, karena itu merupakan bagian dari agama kalian!”. Bagaimana seorang muslim mampu untuk merasakan lezatnya Al Qur’an dan As Sunnah, jika untuk memahami keduanya saja dia tidak bisa.
Oleh karena itu, tidak sepantasnya kaum muslimin menjauh dari bahasa mulia ini. Bahasa yang menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selama hidupnya.Bahasa yang menemani karya-karya para ulama’ yang senantiasa memenuhi lorong-lorong setiap masa sehingga kemurnian agama Islam -walhamdulillah- sampai saat ini masih terjaga serta keutamaan-keutamaan lainnya.
Dari sini, ana sebagai tholabul ‘ilmi merasa perlu untuk berbagi kiat dan cara supaya mudah belajar bahasa Arab meskipun banyak sekali rujukan-rujukan lainnya. Akan tetapi, semoga ini bisa melengkapi apa yang sudah ada.
Diantara kiat-kiat supaya mudah belajar Bahasa Arab adalah :
Pertama,Hendaknya mengikhlaskan niat mempelajarinya hanya karena Allah.
Ikhlas selalu diberi tempat utama oleh para ulama’ sebelum memasuki pembahasan. Ikhlas ini pula yang menjadi hadits pertama dalam Al Arba’in An Nawawiyyah. Maka, sudah selayaknya seorang penuntut ilmu memperhatikan hal ini. Tanamkan pada diri sendiri bahwa kita mempelajari bahasa Arab supaya mengangkat kejahilan yang ada pada diri kita terhadap agama ini, bukan untuk dunia atau semisalnya. Sungguh ikhlas merupakan hal yang berat oleh para salafush shalih terdahulu. Maka ana perlu juga berbagi kiat-kiat supaya ikhlas dalam beramal sebagai nasihat untuk kita bersama, diantaranya :
* Berdo’a kepada Allah supaya kita dijadikan termasuk orang-orang yang ikhlas karena Do’a merupakan senjatanya orang-orang mukmin
* Sebisa mungkin menyembunyikan amalan sebagaimana yang banyak dilakukan oleh generasi salafush shalih terdahulu
* Memperhatikan amal-amal orang shalih yang sudah mendahului kita, bukan membandingkan dengan orang-orang sezaman karena semua yang masih hidup tidaklah aman dari fitnah.
* Memandang kecil amal-amal kita sehingga menumbuhkan semangat untuk memperbaiki amalan.
* Menumbuhkan rasa takut tidak diterimanya amal. Inilah yang senantiasa dikhawatirkan oleh para salafush shalih dalam banyak riwayat.
* Tidak terpengaruh ucapan orang.
* Kesadaran bahwa surga dan neraka bukan di tangan manusia, akan tetapi di tangan Allah ‘azza wajalla semata.
* Selalu mengingat bahwa kelak di kubur kita akan sendirian. Yang menemani kita hanyalah amal shalih yang ikhlas karena Allah semata.
Itu beberapa kiat supaya ikhlas yang ana kumpulkan dari berbagai kajian. Kita memohon kepada Allah subhanahu wata’ala agar kita dijadikan Allah termasuk orang-orang yang ikhlas.
Kedua. Hendaknya menyiapkan perbekalan berupa kelancaran membaca tulisan Arab
Tidaklah mungkin seorang akan menjadi lancar berbahasa Arab sedangkan dia masih terbata-bata membaca tulisan Arab. Hal ini sering sekali dijumpai pada sebagian orang tergesa-gesa dalam belajar. Maka selayaknya seorang penuntut ilmu memperhatikan kelancaran dan kefasihan membaca tulisan Arab sehingga hal ini menjadi bekal penting nantinya untuk terjun belajar bahasa Arab.
Ketiga. Hendaknya belajar di bawah bimbingan guru yang ahli di bidangnya.
Hal ini sering menjadi kekeliruan oleh penuntut ilmu apapun ketika belajar tanpa bimbingan guru (otodidak). Hal ini pula yang selalu dinasehatkan oleh para ulama’ supaya menuntut ilmu dibawah bimbingan guru. Sebab, barangsiapa yang menjadikan kitabnya sebagai gurunya, maka dia akan lebih banyak salahnya dari pada benarnya. Hal ini disebabkan karena pemahaman setiap orang berbeda-beda. Contoh gampangnya, ketika ujian kita dapati jawaban satu dengan lainnya tidaklah sama berdasarkan pemahaman murid yang berbeda-beda. Itu pun masih dalam bimbingan guru, maka bagaimana lagi kalau tanpa bimbingan guru? Bagaimana lagi jika yang dipelajari secara otodidak adalah ilmu agama?Tentu dikhawatirkan dia akan sesat dan menyesatkan.
Keempat.Hendaknya seorang yang belajar menghiasi dirinya dengan sabar
Seorang penuntut ilmu terkadang resah melihat dirinya masih saja membahas bab ini sementara teman-temannya yang lain sudah meninggalkannya sedemikian jauh. Maka hendaknya dia sabar dan tidak tergesa-gesa. Sebab, dampak paling buruk dari ketidaksabaran menuntut ilmu adalah dia berpaling dari ilmu tersebut, tidak mau mempelajarinya lagi. Kita bisa lihat teladan-teladan agung para ulama dalam menuntut ilmu yang apabila diceritakan kisah mereka dalam menuntut ilmu niscaya kita merasa takjub, salah satu kunci keberhasilan mereka menuntut ilmu adalah dengan sifat sabar. Al Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dengan sabarnya satu malam hanya mengumpulkan faedah dari 1 buah hadits sehingga terkumpul 1000 faedah. Kalau kita, baru seumur jagung dalam belajar bahasa Arab saja sudah berangan angan membaca Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiah, Al Mughni Ibnu Qudamah, dan lainnya.
Kelima. Hendaknya thalabul ‘ilmi bersungguh-sungguh dalam belajar, muraja’ah, dan menjaga ilmu yang telah tertancap pada dirinya.
Kesungguhan merupakan salah satu sebab seseorang berhasil dalam belajar bahasa Arab. Sikap pantang menyerah adalah sikap yang diwariskan oleh para ulama’ kepada manusia setelah generasi mereka. Kita lihat metode yang diwariskan oleh para ulama menuai hasil yang menakjubkan. Al Imam Al Bukhori rahimahullah bolak-balik bangun di malam hari hanya sekedar mencatat hadits yang beliau ingat. Hal ini sebagai bukti semangat beliau dalam penjagaan agama ini. Maka hendaknya hal ini perlu kita perhatikan bersama karena jika semangat seseorang tengah membara kepada suatu hal, apapun akan berusaha dia lakukan demi mendapatkan sesuatu tersebut.
Keenam. Hendaknya seorang yang belajar bahasa Arab memulai dari tingkatan yang paling mudah
Sebab, seorang belajar ibarat menapaki anak tangga. Untuk mencapai anak tangga kelima, dia harus melewati anak tangga pertama sampai keempat. Begitu pula belajar bahasa Arab. Seorang pemula yang baru pertama belajar bahasa Arab, hendaknya juga melalui anak tangga pertama. Kitab yang paling bagus untuk kalangan pemula sebagaimana yang ma’ruf di kalangan thalabul ilmi adalah Kitab Al Muyassar karangan Ust. A. Zakariya. Didalamnya terdapat kaedah-kaedah dasar bahasa Arab yang sangat penting khususnya masalah nahwu. Apabila hal ini telah selesai, maka tingkatan selanjutnya adalah cabang ilmu sharaf. Kitab yang bagus untuk masalah ini adalah kitab Mukhtarot yang dikarang oleh Al Ustadz Ainur Rofiq Ghufron hafizhahullah. Di dalamnya terdapat contoh-contoh tashrif yang sudah mencukupi bagi yang ingin mendalami ilmu tashrif. Di dalamnya juga terdapat kaedah-kaedah nahwu yang sebagiannya tidak ada dalam kitab Al Muyassar. Untuk mengetahui contoh tashrif yang paling lengkap, ada juga kitab Al Amtsilatu At Tashrifah. Dulu kitab ini ana pelajari waktu kecil tapi sekarang sudah tidak ana pelajari.
Terdapat pula rujukan kitab yang bagus dan mudah difahami oleh orang awam yang bisa juga dipelajari oleh pemula ataupun yang sudah belajar muyassar, yaitu kitab Pengantar Mudah Berbahasa Arab yang ditulis oleh Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsari hafizhahullah. Isinya sebagian besar membahas kaedah dasar nahwu, namun ditulis dengan gaya berbeda. Sisi keunggulan kitab ini adalah disisipkannya mutiara-mutiara nasehat para ulama dalam menuntut ilmu pada beberapa halaman. Tujuannya, ketika thalabul ilmi sudah mulai jenuh atau bosan ketika menuntut ilmu, dengan adanya petikan nasehat para ulama tersebut dapat membuatnya semangat kembali.
Setelah kaedah dasar nahwu dan sharaf dikuasai, dapat melangkah ke tingkat lanjutan. Kitab yang bagus dalam masalah ini adalah kitab Mulakhkhos atau kitab Muyassar II. Di dalam kitab Mulakhkhos terdapat rincian yang lebih mendalam yang tidak ada pada kitab-kitab lain baik dalam masalah nahwu ataupun sharaf. Terdapat pula rincian-rincian tentang uslub (gaya bahasa) yang penting untuk memahami bahasa Arab.
Setelah thalabul ilmi telah melewati tahapan-tahapan ini, dia telah memiliki bekal awal untuk bisa membaca kitab gundul. Namun, hal ini kuranglah bermanfaat jika dia tidak mengikuti kajian-kajian yang di dalamnya dibahas kitab-kitab para ulama’. Jika dia menempuh jalan ini maka akan semakin mudah baginya untuk memahami bahasa Arab.
Ketujuh. Memperkaya Kosakata
Terkadang, seseorang sangat mahir dalam membaca kitab gundul. Akan tetapi, ketika ditanya artinya tak satupun yang dia pahami. Maka penting bagi kita untuk memperkaya kosakata serta teknik-teknik penerjemahan yang baik karena itu memerlukan pembelajaran khusus serta latihan khusus. Akan menjadi hal yang percuma jika kita belajar kaedah-kaedah bahasa Arab akan tetapi kita lupa kalau bahasa Arab itu pun memiliki arti dalam bahasa Indonesia.
Kedelapan. Hendaknya seorang yang belajar bahasa Arab terikat dengan Al Qur’an.
Sepintas memang agak tidak nyambung. Tapi tidaklah hal ini ana tulis melainkan telah ana buktikan sebagai metode ampuh dalam membaca kitab gundul. Seseorang ketika membaca kitab gundul ketika tersendat dalam suatu kalimat, tidak tahu ini marfu’ ,manshub, atau majrur, keterikatan dirinya terhadap AL Qur’an terkadang membantunya membacanya dengan benar. Dia akan merasakan sesuatu yang aneh kalau kalimat ini dibaca selain dengan cara ini karena di benaknya terngiang bahwa ada ayat atau hadits yang bunyinya kurang lebih sama dengan kitab gundul ini. Keterikatan terhadap Al Qur’an tidak hanya menentukan kita dapat menetukan i’rabnya, namun juga cara baca harokat kalimat sebelum harokat akhirnya.
Demikian semoga kiat-kiat tersebut bisa dipraktekkan di setelaha antum baca artikel ini, dan terakhir ana ucapakan ahlan wasahlan fil madrastil tsanawiyatil hukumiyyatil wahidati masbagik( SMAN 1 Masabgik, Lombok Timur )selamat datang dan selamat belajar bahasa Arab di SMAN 1 Masbagik, Lombok Timur... SMA Yang slalu memberikan inspirasi bagi sekolah lain....,
Wallahu a’lam
hirpanjunior@blogspot.com
Oleh karena itu, tidak sepantasnya kaum muslimin menjauh dari bahasa mulia ini. Bahasa yang menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selama hidupnya.Bahasa yang menemani karya-karya para ulama’ yang senantiasa memenuhi lorong-lorong setiap masa sehingga kemurnian agama Islam -walhamdulillah- sampai saat ini masih terjaga serta keutamaan-keutamaan lainnya.
Dari sini, ana sebagai tholabul ‘ilmi merasa perlu untuk berbagi kiat dan cara supaya mudah belajar bahasa Arab meskipun banyak sekali rujukan-rujukan lainnya. Akan tetapi, semoga ini bisa melengkapi apa yang sudah ada.
Diantara kiat-kiat supaya mudah belajar Bahasa Arab adalah :
Pertama,Hendaknya mengikhlaskan niat mempelajarinya hanya karena Allah.
Ikhlas selalu diberi tempat utama oleh para ulama’ sebelum memasuki pembahasan. Ikhlas ini pula yang menjadi hadits pertama dalam Al Arba’in An Nawawiyyah. Maka, sudah selayaknya seorang penuntut ilmu memperhatikan hal ini. Tanamkan pada diri sendiri bahwa kita mempelajari bahasa Arab supaya mengangkat kejahilan yang ada pada diri kita terhadap agama ini, bukan untuk dunia atau semisalnya. Sungguh ikhlas merupakan hal yang berat oleh para salafush shalih terdahulu. Maka ana perlu juga berbagi kiat-kiat supaya ikhlas dalam beramal sebagai nasihat untuk kita bersama, diantaranya :
* Berdo’a kepada Allah supaya kita dijadikan termasuk orang-orang yang ikhlas karena Do’a merupakan senjatanya orang-orang mukmin
* Sebisa mungkin menyembunyikan amalan sebagaimana yang banyak dilakukan oleh generasi salafush shalih terdahulu
* Memperhatikan amal-amal orang shalih yang sudah mendahului kita, bukan membandingkan dengan orang-orang sezaman karena semua yang masih hidup tidaklah aman dari fitnah.
* Memandang kecil amal-amal kita sehingga menumbuhkan semangat untuk memperbaiki amalan.
* Menumbuhkan rasa takut tidak diterimanya amal. Inilah yang senantiasa dikhawatirkan oleh para salafush shalih dalam banyak riwayat.
* Tidak terpengaruh ucapan orang.
* Kesadaran bahwa surga dan neraka bukan di tangan manusia, akan tetapi di tangan Allah ‘azza wajalla semata.
* Selalu mengingat bahwa kelak di kubur kita akan sendirian. Yang menemani kita hanyalah amal shalih yang ikhlas karena Allah semata.
Itu beberapa kiat supaya ikhlas yang ana kumpulkan dari berbagai kajian. Kita memohon kepada Allah subhanahu wata’ala agar kita dijadikan Allah termasuk orang-orang yang ikhlas.
Kedua. Hendaknya menyiapkan perbekalan berupa kelancaran membaca tulisan Arab
Tidaklah mungkin seorang akan menjadi lancar berbahasa Arab sedangkan dia masih terbata-bata membaca tulisan Arab. Hal ini sering sekali dijumpai pada sebagian orang tergesa-gesa dalam belajar. Maka selayaknya seorang penuntut ilmu memperhatikan kelancaran dan kefasihan membaca tulisan Arab sehingga hal ini menjadi bekal penting nantinya untuk terjun belajar bahasa Arab.
Ketiga. Hendaknya belajar di bawah bimbingan guru yang ahli di bidangnya.
Hal ini sering menjadi kekeliruan oleh penuntut ilmu apapun ketika belajar tanpa bimbingan guru (otodidak). Hal ini pula yang selalu dinasehatkan oleh para ulama’ supaya menuntut ilmu dibawah bimbingan guru. Sebab, barangsiapa yang menjadikan kitabnya sebagai gurunya, maka dia akan lebih banyak salahnya dari pada benarnya. Hal ini disebabkan karena pemahaman setiap orang berbeda-beda. Contoh gampangnya, ketika ujian kita dapati jawaban satu dengan lainnya tidaklah sama berdasarkan pemahaman murid yang berbeda-beda. Itu pun masih dalam bimbingan guru, maka bagaimana lagi kalau tanpa bimbingan guru? Bagaimana lagi jika yang dipelajari secara otodidak adalah ilmu agama?Tentu dikhawatirkan dia akan sesat dan menyesatkan.
Keempat.Hendaknya seorang yang belajar menghiasi dirinya dengan sabar
Seorang penuntut ilmu terkadang resah melihat dirinya masih saja membahas bab ini sementara teman-temannya yang lain sudah meninggalkannya sedemikian jauh. Maka hendaknya dia sabar dan tidak tergesa-gesa. Sebab, dampak paling buruk dari ketidaksabaran menuntut ilmu adalah dia berpaling dari ilmu tersebut, tidak mau mempelajarinya lagi. Kita bisa lihat teladan-teladan agung para ulama dalam menuntut ilmu yang apabila diceritakan kisah mereka dalam menuntut ilmu niscaya kita merasa takjub, salah satu kunci keberhasilan mereka menuntut ilmu adalah dengan sifat sabar. Al Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dengan sabarnya satu malam hanya mengumpulkan faedah dari 1 buah hadits sehingga terkumpul 1000 faedah. Kalau kita, baru seumur jagung dalam belajar bahasa Arab saja sudah berangan angan membaca Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiah, Al Mughni Ibnu Qudamah, dan lainnya.
Kelima. Hendaknya thalabul ‘ilmi bersungguh-sungguh dalam belajar, muraja’ah, dan menjaga ilmu yang telah tertancap pada dirinya.
Kesungguhan merupakan salah satu sebab seseorang berhasil dalam belajar bahasa Arab. Sikap pantang menyerah adalah sikap yang diwariskan oleh para ulama’ kepada manusia setelah generasi mereka. Kita lihat metode yang diwariskan oleh para ulama menuai hasil yang menakjubkan. Al Imam Al Bukhori rahimahullah bolak-balik bangun di malam hari hanya sekedar mencatat hadits yang beliau ingat. Hal ini sebagai bukti semangat beliau dalam penjagaan agama ini. Maka hendaknya hal ini perlu kita perhatikan bersama karena jika semangat seseorang tengah membara kepada suatu hal, apapun akan berusaha dia lakukan demi mendapatkan sesuatu tersebut.
Keenam. Hendaknya seorang yang belajar bahasa Arab memulai dari tingkatan yang paling mudah
Sebab, seorang belajar ibarat menapaki anak tangga. Untuk mencapai anak tangga kelima, dia harus melewati anak tangga pertama sampai keempat. Begitu pula belajar bahasa Arab. Seorang pemula yang baru pertama belajar bahasa Arab, hendaknya juga melalui anak tangga pertama. Kitab yang paling bagus untuk kalangan pemula sebagaimana yang ma’ruf di kalangan thalabul ilmi adalah Kitab Al Muyassar karangan Ust. A. Zakariya. Didalamnya terdapat kaedah-kaedah dasar bahasa Arab yang sangat penting khususnya masalah nahwu. Apabila hal ini telah selesai, maka tingkatan selanjutnya adalah cabang ilmu sharaf. Kitab yang bagus untuk masalah ini adalah kitab Mukhtarot yang dikarang oleh Al Ustadz Ainur Rofiq Ghufron hafizhahullah. Di dalamnya terdapat contoh-contoh tashrif yang sudah mencukupi bagi yang ingin mendalami ilmu tashrif. Di dalamnya juga terdapat kaedah-kaedah nahwu yang sebagiannya tidak ada dalam kitab Al Muyassar. Untuk mengetahui contoh tashrif yang paling lengkap, ada juga kitab Al Amtsilatu At Tashrifah. Dulu kitab ini ana pelajari waktu kecil tapi sekarang sudah tidak ana pelajari.
Terdapat pula rujukan kitab yang bagus dan mudah difahami oleh orang awam yang bisa juga dipelajari oleh pemula ataupun yang sudah belajar muyassar, yaitu kitab Pengantar Mudah Berbahasa Arab yang ditulis oleh Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al Atsari hafizhahullah. Isinya sebagian besar membahas kaedah dasar nahwu, namun ditulis dengan gaya berbeda. Sisi keunggulan kitab ini adalah disisipkannya mutiara-mutiara nasehat para ulama dalam menuntut ilmu pada beberapa halaman. Tujuannya, ketika thalabul ilmi sudah mulai jenuh atau bosan ketika menuntut ilmu, dengan adanya petikan nasehat para ulama tersebut dapat membuatnya semangat kembali.
Setelah kaedah dasar nahwu dan sharaf dikuasai, dapat melangkah ke tingkat lanjutan. Kitab yang bagus dalam masalah ini adalah kitab Mulakhkhos atau kitab Muyassar II. Di dalam kitab Mulakhkhos terdapat rincian yang lebih mendalam yang tidak ada pada kitab-kitab lain baik dalam masalah nahwu ataupun sharaf. Terdapat pula rincian-rincian tentang uslub (gaya bahasa) yang penting untuk memahami bahasa Arab.
Setelah thalabul ilmi telah melewati tahapan-tahapan ini, dia telah memiliki bekal awal untuk bisa membaca kitab gundul. Namun, hal ini kuranglah bermanfaat jika dia tidak mengikuti kajian-kajian yang di dalamnya dibahas kitab-kitab para ulama’. Jika dia menempuh jalan ini maka akan semakin mudah baginya untuk memahami bahasa Arab.
Ketujuh. Memperkaya Kosakata
Terkadang, seseorang sangat mahir dalam membaca kitab gundul. Akan tetapi, ketika ditanya artinya tak satupun yang dia pahami. Maka penting bagi kita untuk memperkaya kosakata serta teknik-teknik penerjemahan yang baik karena itu memerlukan pembelajaran khusus serta latihan khusus. Akan menjadi hal yang percuma jika kita belajar kaedah-kaedah bahasa Arab akan tetapi kita lupa kalau bahasa Arab itu pun memiliki arti dalam bahasa Indonesia.
Kedelapan. Hendaknya seorang yang belajar bahasa Arab terikat dengan Al Qur’an.
Sepintas memang agak tidak nyambung. Tapi tidaklah hal ini ana tulis melainkan telah ana buktikan sebagai metode ampuh dalam membaca kitab gundul. Seseorang ketika membaca kitab gundul ketika tersendat dalam suatu kalimat, tidak tahu ini marfu’ ,manshub, atau majrur, keterikatan dirinya terhadap AL Qur’an terkadang membantunya membacanya dengan benar. Dia akan merasakan sesuatu yang aneh kalau kalimat ini dibaca selain dengan cara ini karena di benaknya terngiang bahwa ada ayat atau hadits yang bunyinya kurang lebih sama dengan kitab gundul ini. Keterikatan terhadap Al Qur’an tidak hanya menentukan kita dapat menetukan i’rabnya, namun juga cara baca harokat kalimat sebelum harokat akhirnya.
Demikian semoga kiat-kiat tersebut bisa dipraktekkan di setelaha antum baca artikel ini, dan terakhir ana ucapakan ahlan wasahlan fil madrastil tsanawiyatil hukumiyyatil wahidati masbagik( SMAN 1 Masabgik, Lombok Timur )selamat datang dan selamat belajar bahasa Arab di SMAN 1 Masbagik, Lombok Timur... SMA Yang slalu memberikan inspirasi bagi sekolah lain....,
Wallahu a’lam
hirpanjunior@blogspot.com
Rabu, 22 Juni 2011
Cara Sederhana Panjang Usia
Setiap orang tentu mengharapkan hidup yang sehat dan bahagia sehingga pada akhirnya dapat mencapai usia yang relatif panjang.
Harapan hidup orang Indonesia, menurut data Biro Pusat Statistik, dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Bahkan pada 2025 nanti, harapan hidup orang Indonesia diproyeksikan bisa mencapai rata-rata 73 tahun.
Untuk mencapai usia ideal tersebut, banyak cara yang dapat dilakukan. Menjaga hidup tetap sehat dengan mengatur gaya hidup dan aktivitas adalah salah satu kuncinya. Tetapi tak jarang pula ada sebagian orang melakukan upaya medis tertentu yang diyakini dapat memperpanjang usia.
Di antara beragam upaya, sebenarnya ada cara murah, mudah dan sederhana agar seseorang bisa mencapai umur ideal. Berikut adalah enam cara yang dapat ditempuh supaya hidup lebih sehat, aktif, dan terhindar dari penyakit :
1. Banyak bergerak
Tambah usia: 2-4 tahun
Para peneliti dari Belanda dan Australia menemukan bahwa latihan kardiovaskular intensitas sedang hingga tinggi, seperti berlari 30 menit 5 hari seminggu, memperpanjang usia 2 hingga 4 tahun. Keuntungan lain, 1 hingga 3 tahun bebas dari penyakit jantung. Penyebabnya, lari memperkuat otot jantung dan otot-otot lain, serta menurunkan kadar kolesterol. Jika Anda tak kuat lari, lakukan jalan sehat 30 menit sehari. Kegiatan ini dapat menurunkan risiko serangan jantung hingga separuhnya.
2. Konsumsi makanan bermutu
Tambah usia: 4 tahun atau lebih
Makanan yang bagus untuk panjang usia adalah dark chocolate, kacang almond, buah-buahan, sayuran, bawang putih, ikan, segelas anggur merah. Jenis makanan sehat ini bakal menambah usia hingga 4 tahun menurut riset yang dilakukan oleh British Medical Journal karena kaya akan zat antioksidan, zat antiperadangan asam lemak omega 3, serat, dan zat gizi lain yang dapat menurunkan risiko serangan jantung hingga 76 persen. Makanan bermutu itu juga menurunkan risiko kanker payudara hingga 22 persen. Orang-orang panjang usia yang hidup lebih dari 100 tahun memiliki pola makan seperti ini. Percayalah, mereka jarang mengasup makanan kaya lemak seperti donat.
3. Berhenti merokok
Tambah usia: 2 hingga 8 tahun
Semakin muda usia Anda berhenti merokok, semakin baik. Sebuah studi yang diterbitkan oleh American Journal of Public Health menemukan bahwa perokok yang berhenti sebelum 35 tahun dapat meningkatkan harapan hidupnya 6 hingga 7 tahun.
4. Kurangi kelebihan lemak
Tambah usia: 3 hingga 4 tahun
Mengurangi kelebihan lemak berarti menurunkan risiko kematian 20 hingga 40 persen. Itu menurut penelitian National Cancer Institute dari AS. Penelitian lain berhasil menemukan kaitan antara kelebihan berat badan dengan kadar kolesterol tinggi, diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan stroke.
5. Lakukan permainan otak
Tambah usia: 2 tahun atau lebih
Banyak ahli percaya bahwa latihan mental dapat menjaga sel-sel otak tetap aktif dan efisien, saat kita bertambah tua. Terus belajar seumur hidup ditambah melakukan kebiasaan hidup sehat dapat memperpanjang usia paling tidak 2 tahun. Satu permainan otak seminggu sekali saja bisa menambah ketajaman otak sebesar 7 persen. Semain banyak dilatih, semakin besar persentase itu. Karena itu, sering-seringlah membaca, bermain sudoku, menyusun puzzle untuk menurunkan alzheimer, kata Gary Smal, kepala Memory and Aging Research Center dari University of California, Los Angeles.
6. Berdoa kepada Allah
Tambah usia: tak terhingga
Berdoa Kepada Allah, merupakan cara yang paling sederhana untuk " Menego " umur kita agar lebih lama dan panjang... walaupun kematian/ batas umur merupakan A MISTERIUS PROBLEM, tapi tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah kalau kita berdoa'a dan tentunya berusaha agar panjang umur... bukankah dalam do'a kita, kita selalu mengatan Allahumma Thawwil umurona ( ya Allah panjangkan umur kami )...
selamat mencoba, bagi anda yang ingin umurnya panjang...
Terinspirasi dari kompas.com
Harapan hidup orang Indonesia, menurut data Biro Pusat Statistik, dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Bahkan pada 2025 nanti, harapan hidup orang Indonesia diproyeksikan bisa mencapai rata-rata 73 tahun.
Untuk mencapai usia ideal tersebut, banyak cara yang dapat dilakukan. Menjaga hidup tetap sehat dengan mengatur gaya hidup dan aktivitas adalah salah satu kuncinya. Tetapi tak jarang pula ada sebagian orang melakukan upaya medis tertentu yang diyakini dapat memperpanjang usia.
Di antara beragam upaya, sebenarnya ada cara murah, mudah dan sederhana agar seseorang bisa mencapai umur ideal. Berikut adalah enam cara yang dapat ditempuh supaya hidup lebih sehat, aktif, dan terhindar dari penyakit :
1. Banyak bergerak
Tambah usia: 2-4 tahun
Para peneliti dari Belanda dan Australia menemukan bahwa latihan kardiovaskular intensitas sedang hingga tinggi, seperti berlari 30 menit 5 hari seminggu, memperpanjang usia 2 hingga 4 tahun. Keuntungan lain, 1 hingga 3 tahun bebas dari penyakit jantung. Penyebabnya, lari memperkuat otot jantung dan otot-otot lain, serta menurunkan kadar kolesterol. Jika Anda tak kuat lari, lakukan jalan sehat 30 menit sehari. Kegiatan ini dapat menurunkan risiko serangan jantung hingga separuhnya.
2. Konsumsi makanan bermutu
Tambah usia: 4 tahun atau lebih
Makanan yang bagus untuk panjang usia adalah dark chocolate, kacang almond, buah-buahan, sayuran, bawang putih, ikan, segelas anggur merah. Jenis makanan sehat ini bakal menambah usia hingga 4 tahun menurut riset yang dilakukan oleh British Medical Journal karena kaya akan zat antioksidan, zat antiperadangan asam lemak omega 3, serat, dan zat gizi lain yang dapat menurunkan risiko serangan jantung hingga 76 persen. Makanan bermutu itu juga menurunkan risiko kanker payudara hingga 22 persen. Orang-orang panjang usia yang hidup lebih dari 100 tahun memiliki pola makan seperti ini. Percayalah, mereka jarang mengasup makanan kaya lemak seperti donat.
3. Berhenti merokok
Tambah usia: 2 hingga 8 tahun
Semakin muda usia Anda berhenti merokok, semakin baik. Sebuah studi yang diterbitkan oleh American Journal of Public Health menemukan bahwa perokok yang berhenti sebelum 35 tahun dapat meningkatkan harapan hidupnya 6 hingga 7 tahun.
4. Kurangi kelebihan lemak
Tambah usia: 3 hingga 4 tahun
Mengurangi kelebihan lemak berarti menurunkan risiko kematian 20 hingga 40 persen. Itu menurut penelitian National Cancer Institute dari AS. Penelitian lain berhasil menemukan kaitan antara kelebihan berat badan dengan kadar kolesterol tinggi, diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan stroke.
5. Lakukan permainan otak
Tambah usia: 2 tahun atau lebih
Banyak ahli percaya bahwa latihan mental dapat menjaga sel-sel otak tetap aktif dan efisien, saat kita bertambah tua. Terus belajar seumur hidup ditambah melakukan kebiasaan hidup sehat dapat memperpanjang usia paling tidak 2 tahun. Satu permainan otak seminggu sekali saja bisa menambah ketajaman otak sebesar 7 persen. Semain banyak dilatih, semakin besar persentase itu. Karena itu, sering-seringlah membaca, bermain sudoku, menyusun puzzle untuk menurunkan alzheimer, kata Gary Smal, kepala Memory and Aging Research Center dari University of California, Los Angeles.
6. Berdoa kepada Allah
Tambah usia: tak terhingga
Berdoa Kepada Allah, merupakan cara yang paling sederhana untuk " Menego " umur kita agar lebih lama dan panjang... walaupun kematian/ batas umur merupakan A MISTERIUS PROBLEM, tapi tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah kalau kita berdoa'a dan tentunya berusaha agar panjang umur... bukankah dalam do'a kita, kita selalu mengatan Allahumma Thawwil umurona ( ya Allah panjangkan umur kami )...
selamat mencoba, bagi anda yang ingin umurnya panjang...
Terinspirasi dari kompas.com
Alif dan Siami Sang Guru Etika
Aduhai, alangkah elok dan terpujinya perilakumu Alifah. Kau masihlah bocah, tapi di usiamu yang belia kau mampu mengajari bangsamu nilai yang teramat mulia, kejujuran.
-----------00000------------------
Ketahuilah Alif, kejujurun adalah mata pelajaran hidup terpenting. Dan kau memahaminya begitu dalam.
Mendiang Mohammad Hatta, Baharuddin Lopa dan para tokoh mulia bangsa ini yang setia mengajari moral pada bangsanya, pasti bangga melihat bangsanya mampu melahirkan anak-anak bermoral luhur sepertimu Alif.
Mereka juga pasti bangga memiliki anak-anak bangsa yang walau hidup tak berkecukupan namun tetap mengajari anak-anaknya dengan kejujuran, seperti ibumu, Siami.
Semua agama, semua keyakinan, semua nabi, semua orang suci, semua orang bijak, semua penganjur kebaikan dan pencerah kehidupan segala zaman, menyeru keras-keras manusia untuk meninggikan kejujuran.
Kejujuran membedakan masyarakat satu dari lainnya, bahkan menjadi pondasi bangsa-bangsa besar yang kemudian mampu menaruh dunia dalam genggamannya. Jepang, salah satunya.
Jepang tahu pasti kejujuran adalah inti suskes sebuah bangsa.
T.R Reid dengan cantik melukiskan bagaimana orang Jepang menanamkan moral dan etika kepada generasinya, dalam "Confucius Lives Next Door".
Orang Jepang akan gelisah dicap negatif oleh orang-orang di sekitarnya. Mereka akan malu berbuat salah.
Dan mereka begitu menghargai hak orang lain. Apapun milik orang lain tercecer jauh dari pemiliknya, pantang bagi orang Jepang untuk mengambilnya. Mereka tahu hak dan batas karena sejak dini telah dikenalkan kepada itu.
Manakala anak Jepang menemukan barang yang bukan miliknya, meski itu sekeping koin, orang tua akan menemani si anak melapor ke polisi. Sang polisi tak menganggap hal ini sepele. Sebaliknya, perilaku si anak dilihat sebagai bagian dari pendidikan moral dan awal bagaimana hukum dibumikan dan diteladankan.
Polisi akan dengan senang hati menyodorkan kertas laporan kehilangan barang. Kemudian, menyelamati si anak, "Terimakasih kamu telah jujur."
Kejujuran itu membuat orang Jepang amat menjaga martabatnya. Sekali mereka mengambil yang bukan haknya, sekali itu mereka merasa hidupnya buruk begitu rupa.
Mereka berpepatah, "Reputasi ribuan tahunan ditentukan oleh tindak tanduk sesaat." Itu sama dengan "Nila setitik rusak susu sebelanga" dalam bahasa kita.
Tak heran, di pentas kehidupan lebih tinggi, politik misalnya, orang Jepang enggan bersikukuh bertahan dalam jabatan saat noda dilihat masyarakatnya telah mengotori jabatannya.
Seiji Maehara contohnya.
Seiji mengundurkan diri dari jabatan menteri luar negeri karena menerima 50 ribu yen dari orang asing. Nilai itu sama dengan Rp600 ribu!
Bandingkan dengan PDB Jepang 2010 yang 5,391 triliun dolar AS (Rp47 ribu triliun) atau PDB Indonesia tahun 2010 yang Rp5,613 triliun. Itu bagai debu di padang pasir!
Tapi, bukan soal recehan atau tidak yang dipersoalkan orang Jepang. Ini soal moral dan etika, bahwa pemimpin seharusnya tidak menerima dan mengambil yang bukan haknya.
Menganggap entengkah Seiji? Apakah dia mengobral kalimat, 'Nanti dulu, kita harus menjunjung asas praduga tak bersalah" atau "Hey, fakta hukum itu tak boleh katanya, katanya, dan katanya" atau "Ini konspirasi untuk menjatuhkan saya", dan bla bla bla
Tidak saudara! Seiji justru bersedu meminta ampun, "Saya mohon maaf kepada rakyat telah menohok kepercayaan publik karena soal pembiayaan politik saya itu."
Itulah kenapa Jepang disebut sebagai sekolah moral dan etika yang hebat, bahkan orang Eropa pun bersetuju dengan klaim itu.
Sejak dini, anak-anak Jepang diajari kejujuran seperti Siami mengajari Alifah untuk selalu jujur. Sayang, petuah Siami kepada Alifah tak beresonansi ke masyarakatnya, bahkan sekolah di mana seharusnya moral ditinggikan pun mencibirnya.
Sebaliknya, orang Jepang mengajarkan kejujuran di mana saja. Di rumah, di sekolah, di jalan. Dengan kejujuran bangsa itu begitu cepat bangkit dari bencana paling mengerikan sekali pun.
Kita tak perlu studi banding ke Jepang, apalagi kita masih memiliki orang-orang seperti Alif dan Siami. Mereka adalah "guru-guru etika" yang sebenar-benarnya.
Alif dan Siami mencambuk kita untuk memberi tempat selapang mungkin bagi kejujuran, bagi orang-orang jujur seperti ibu dan anak itu.
Media massa, sekolah, masyarakat, dan para pemimpin mesti membuka lebar-lebar pintu publikasi untuk akhlak mulia seperti dipraktikan Alifah Ahmad Maulana dan ibunya. Jangan biarkan bangsa ini terlalu sering diceramahi oleh mereka yang pongah, bermental pencoleng dan penipu.
Kejujuran harus menjadi jiwa di sekolah-sekolah, kampus-kampus, dan segala sudut di negeri ini.
Selama ini kita begitu masyuk mencintai kepalsuan dan bayangan, cangkang dan aksesoris, ketimbang isi dan nilai. Kepalsuan yang memabukkan itu bahkan membuat kita tak mau bertanggunggjawab kepada masa depan dengan enggan menciptakan pondasi nilai baik bagi generasi mendatang.
Kita telah begitu rupa dibutakan oleh materi dan ilusi bahwa kemajuan hidup itu melulu soal angka, sementara etika, moral dan nilai-nilai luhur seperti kejujuran disingkirkan, justru ketika bangsa-bangsa besar meninggikannya. Ilusi itu membuat kita tak malu lagi untuk curang, bahkan memujanya.
TR Reid menulis, sistem pendidikan Jepang amat menekankan pembangunan moral karena percaya moral adalah pondasi terkuat untuk membangun bangsa yang kuat. Mereka mencintai prestasi, tapi tak menuhankan statistik yang acap menghinakan nilai hidup dan kemanusiaan.
Pendiri Panasonic, Konosuke Matsushita, berkata, "Sehebat apapun bakat dan pengetahuan kita, tanpa kejujuran, kita tak akan bisa mendapat kepercayaan dari yang lain dan menghargai diri sendiri."
Kita perlu pondasi moral seperti dimuliakan Matsushita dan orang-orang Jepang itu. Pondasi yang dengan tegar dan indah ditegakkan oleh Siami dan Alif, kendati untuk itu butuh reformasi total pada sistem nilai kita.
Terinspirasi dari Kompas.com
-----------00000------------------
Ketahuilah Alif, kejujurun adalah mata pelajaran hidup terpenting. Dan kau memahaminya begitu dalam.
Mendiang Mohammad Hatta, Baharuddin Lopa dan para tokoh mulia bangsa ini yang setia mengajari moral pada bangsanya, pasti bangga melihat bangsanya mampu melahirkan anak-anak bermoral luhur sepertimu Alif.
Mereka juga pasti bangga memiliki anak-anak bangsa yang walau hidup tak berkecukupan namun tetap mengajari anak-anaknya dengan kejujuran, seperti ibumu, Siami.
Semua agama, semua keyakinan, semua nabi, semua orang suci, semua orang bijak, semua penganjur kebaikan dan pencerah kehidupan segala zaman, menyeru keras-keras manusia untuk meninggikan kejujuran.
Kejujuran membedakan masyarakat satu dari lainnya, bahkan menjadi pondasi bangsa-bangsa besar yang kemudian mampu menaruh dunia dalam genggamannya. Jepang, salah satunya.
Jepang tahu pasti kejujuran adalah inti suskes sebuah bangsa.
T.R Reid dengan cantik melukiskan bagaimana orang Jepang menanamkan moral dan etika kepada generasinya, dalam "Confucius Lives Next Door".
Orang Jepang akan gelisah dicap negatif oleh orang-orang di sekitarnya. Mereka akan malu berbuat salah.
Dan mereka begitu menghargai hak orang lain. Apapun milik orang lain tercecer jauh dari pemiliknya, pantang bagi orang Jepang untuk mengambilnya. Mereka tahu hak dan batas karena sejak dini telah dikenalkan kepada itu.
Manakala anak Jepang menemukan barang yang bukan miliknya, meski itu sekeping koin, orang tua akan menemani si anak melapor ke polisi. Sang polisi tak menganggap hal ini sepele. Sebaliknya, perilaku si anak dilihat sebagai bagian dari pendidikan moral dan awal bagaimana hukum dibumikan dan diteladankan.
Polisi akan dengan senang hati menyodorkan kertas laporan kehilangan barang. Kemudian, menyelamati si anak, "Terimakasih kamu telah jujur."
Kejujuran itu membuat orang Jepang amat menjaga martabatnya. Sekali mereka mengambil yang bukan haknya, sekali itu mereka merasa hidupnya buruk begitu rupa.
Mereka berpepatah, "Reputasi ribuan tahunan ditentukan oleh tindak tanduk sesaat." Itu sama dengan "Nila setitik rusak susu sebelanga" dalam bahasa kita.
Tak heran, di pentas kehidupan lebih tinggi, politik misalnya, orang Jepang enggan bersikukuh bertahan dalam jabatan saat noda dilihat masyarakatnya telah mengotori jabatannya.
Seiji Maehara contohnya.
Seiji mengundurkan diri dari jabatan menteri luar negeri karena menerima 50 ribu yen dari orang asing. Nilai itu sama dengan Rp600 ribu!
Bandingkan dengan PDB Jepang 2010 yang 5,391 triliun dolar AS (Rp47 ribu triliun) atau PDB Indonesia tahun 2010 yang Rp5,613 triliun. Itu bagai debu di padang pasir!
Tapi, bukan soal recehan atau tidak yang dipersoalkan orang Jepang. Ini soal moral dan etika, bahwa pemimpin seharusnya tidak menerima dan mengambil yang bukan haknya.
Menganggap entengkah Seiji? Apakah dia mengobral kalimat, 'Nanti dulu, kita harus menjunjung asas praduga tak bersalah" atau "Hey, fakta hukum itu tak boleh katanya, katanya, dan katanya" atau "Ini konspirasi untuk menjatuhkan saya", dan bla bla bla
Tidak saudara! Seiji justru bersedu meminta ampun, "Saya mohon maaf kepada rakyat telah menohok kepercayaan publik karena soal pembiayaan politik saya itu."
Itulah kenapa Jepang disebut sebagai sekolah moral dan etika yang hebat, bahkan orang Eropa pun bersetuju dengan klaim itu.
Sejak dini, anak-anak Jepang diajari kejujuran seperti Siami mengajari Alifah untuk selalu jujur. Sayang, petuah Siami kepada Alifah tak beresonansi ke masyarakatnya, bahkan sekolah di mana seharusnya moral ditinggikan pun mencibirnya.
Sebaliknya, orang Jepang mengajarkan kejujuran di mana saja. Di rumah, di sekolah, di jalan. Dengan kejujuran bangsa itu begitu cepat bangkit dari bencana paling mengerikan sekali pun.
Kita tak perlu studi banding ke Jepang, apalagi kita masih memiliki orang-orang seperti Alif dan Siami. Mereka adalah "guru-guru etika" yang sebenar-benarnya.
Alif dan Siami mencambuk kita untuk memberi tempat selapang mungkin bagi kejujuran, bagi orang-orang jujur seperti ibu dan anak itu.
Media massa, sekolah, masyarakat, dan para pemimpin mesti membuka lebar-lebar pintu publikasi untuk akhlak mulia seperti dipraktikan Alifah Ahmad Maulana dan ibunya. Jangan biarkan bangsa ini terlalu sering diceramahi oleh mereka yang pongah, bermental pencoleng dan penipu.
Kejujuran harus menjadi jiwa di sekolah-sekolah, kampus-kampus, dan segala sudut di negeri ini.
Selama ini kita begitu masyuk mencintai kepalsuan dan bayangan, cangkang dan aksesoris, ketimbang isi dan nilai. Kepalsuan yang memabukkan itu bahkan membuat kita tak mau bertanggunggjawab kepada masa depan dengan enggan menciptakan pondasi nilai baik bagi generasi mendatang.
Kita telah begitu rupa dibutakan oleh materi dan ilusi bahwa kemajuan hidup itu melulu soal angka, sementara etika, moral dan nilai-nilai luhur seperti kejujuran disingkirkan, justru ketika bangsa-bangsa besar meninggikannya. Ilusi itu membuat kita tak malu lagi untuk curang, bahkan memujanya.
TR Reid menulis, sistem pendidikan Jepang amat menekankan pembangunan moral karena percaya moral adalah pondasi terkuat untuk membangun bangsa yang kuat. Mereka mencintai prestasi, tapi tak menuhankan statistik yang acap menghinakan nilai hidup dan kemanusiaan.
Pendiri Panasonic, Konosuke Matsushita, berkata, "Sehebat apapun bakat dan pengetahuan kita, tanpa kejujuran, kita tak akan bisa mendapat kepercayaan dari yang lain dan menghargai diri sendiri."
Kita perlu pondasi moral seperti dimuliakan Matsushita dan orang-orang Jepang itu. Pondasi yang dengan tegar dan indah ditegakkan oleh Siami dan Alif, kendati untuk itu butuh reformasi total pada sistem nilai kita.
Terinspirasi dari Kompas.com
Selasa, 31 Mei 2011
Tips Membaca dan Memahami Sebuah Teks Super Cepat
• Kecepatan membaca
Setiap jenis bacaan memiliki kecepatan yang berbeda. Misalnya, sebuah novel yang menarik membutuhkan waktu yang lebih cepat ketimbang teks biologi.
Buku diktat juga berbeda dalam bagaimana bagusnya gaya penulisannya, dan sebagai akibatnya ada beberapa yang mustahil untuk dibaca secara cepat.
Setiap semester, ukurlah waktu yang kamu perlukan untuk membaca satu bab dari setiap buku diktatmu. Lihat berapa halaman yang dapat kamu baca dalam waktu satu jam. Setelah kamu mendapatkan hitungan akurat atas kecepatan membacamu, kamu dapat merencanakan dengan baik waktu membaca dan belajar.
• Pemahaman
Mula-mula bacalah satu bab dengan cepat. Identifikasikan bagian-bagian di mana pengarang menjelaskan suatu topik paling banyak. Bila terdapat banyak diagram untuk suatu konsep, maka konsep itu pastilah penting. Bila kamu benar-benar dikejar oleh waktu, lewati bagian di mana pengarang paling sedikit menjelaskannya.
Bacalah kalimat pertama setiap paragraf lebih hati-hati daripada kalimat-kalimat berikutnya pada paragraf yang sama.
Catatlah subjudul dan kalimat pertama setiap paragraf sebelum kamu membaca bab itu sendiri. Kemudian tutup bukumu dan tanyalah dirimu apa yang kamu tahu dan tidak tahu tentang subyek tersebut sebelum mulai membaca.
Fokus pada kata benda dan subyek pada setiap kalimat. Carilah kombinasi kata benda-kata kerja, dan fokuskan belajarmu padanya.
Misalnya pada kutipan wacana berikut:
Pengkondisian klasik adalah pembelajaran yang terjadi ketika kita menghubungkan dua stimuli dalam suatu lingkungan. Satu dari stimuli ini memicu respon refleksif. Stimulus kedua secara alami bersifat netral terhadap respon tersebut, tetapi setelah yang kedua ini dipasangkan dengan yang pertama, ia akan memicu responnya sendiri.
Daripada membaca setiap kata, kamu mungkin dapat meringkasnya seperti ini:
Pengkondisian klasik = pembelajaran = menghubungkan dua stimuli.
Stimulus pertama = memicu respon
Stimulus kedua = netral alamiah, tetapi berpasangan dengan stimulus pertama --> memicu respon
Daripada membaca dan membaca ulang suatu wacana, cobalah membuat catatan seperti di atas sehingga kamu hanya mencatat bagian-bagian yang penting saja. Sekali kamu membuat catatan-catatan semacam ini, kamu tidak perlu menguatirkan sisa wacananya.
Kebiasaan pembaca yang kurang cerdas:
Membaca sebuah teks, meminjam istilahnya internet, dengan loading yang lama ( baca: membaca dan memahami tanpa mengetahui intinya )
Kebiasaan membaca dengan dibarengi dengan makan snack, maka biasannya lebih lebih cepat habis snacknya ketimbang bacaannya… nagaku dehh..!!!
Kalau ada kompetisi ( balapan ) antara membaca VS ngantuk, so pasti ngantuk pasti menang
“ Asyiknya Membaca Seenak dan Seasyik Makan Fizza “
Setiap jenis bacaan memiliki kecepatan yang berbeda. Misalnya, sebuah novel yang menarik membutuhkan waktu yang lebih cepat ketimbang teks biologi.
Buku diktat juga berbeda dalam bagaimana bagusnya gaya penulisannya, dan sebagai akibatnya ada beberapa yang mustahil untuk dibaca secara cepat.
Setiap semester, ukurlah waktu yang kamu perlukan untuk membaca satu bab dari setiap buku diktatmu. Lihat berapa halaman yang dapat kamu baca dalam waktu satu jam. Setelah kamu mendapatkan hitungan akurat atas kecepatan membacamu, kamu dapat merencanakan dengan baik waktu membaca dan belajar.
• Pemahaman
Mula-mula bacalah satu bab dengan cepat. Identifikasikan bagian-bagian di mana pengarang menjelaskan suatu topik paling banyak. Bila terdapat banyak diagram untuk suatu konsep, maka konsep itu pastilah penting. Bila kamu benar-benar dikejar oleh waktu, lewati bagian di mana pengarang paling sedikit menjelaskannya.
Bacalah kalimat pertama setiap paragraf lebih hati-hati daripada kalimat-kalimat berikutnya pada paragraf yang sama.
Catatlah subjudul dan kalimat pertama setiap paragraf sebelum kamu membaca bab itu sendiri. Kemudian tutup bukumu dan tanyalah dirimu apa yang kamu tahu dan tidak tahu tentang subyek tersebut sebelum mulai membaca.
Fokus pada kata benda dan subyek pada setiap kalimat. Carilah kombinasi kata benda-kata kerja, dan fokuskan belajarmu padanya.
Misalnya pada kutipan wacana berikut:
Pengkondisian klasik adalah pembelajaran yang terjadi ketika kita menghubungkan dua stimuli dalam suatu lingkungan. Satu dari stimuli ini memicu respon refleksif. Stimulus kedua secara alami bersifat netral terhadap respon tersebut, tetapi setelah yang kedua ini dipasangkan dengan yang pertama, ia akan memicu responnya sendiri.
Daripada membaca setiap kata, kamu mungkin dapat meringkasnya seperti ini:
Pengkondisian klasik = pembelajaran = menghubungkan dua stimuli.
Stimulus pertama = memicu respon
Stimulus kedua = netral alamiah, tetapi berpasangan dengan stimulus pertama --> memicu respon
Daripada membaca dan membaca ulang suatu wacana, cobalah membuat catatan seperti di atas sehingga kamu hanya mencatat bagian-bagian yang penting saja. Sekali kamu membuat catatan-catatan semacam ini, kamu tidak perlu menguatirkan sisa wacananya.
Kebiasaan pembaca yang kurang cerdas:
Membaca sebuah teks, meminjam istilahnya internet, dengan loading yang lama ( baca: membaca dan memahami tanpa mengetahui intinya )
Kebiasaan membaca dengan dibarengi dengan makan snack, maka biasannya lebih lebih cepat habis snacknya ketimbang bacaannya… nagaku dehh..!!!
Kalau ada kompetisi ( balapan ) antara membaca VS ngantuk, so pasti ngantuk pasti menang
“ Asyiknya Membaca Seenak dan Seasyik Makan Fizza “
Jumat, 27 Mei 2011
KYAI ITU BERNAMA “ KYAI GOOGLE “
Maybe yes, maybe no
Tulisan ini terinspirasi ketika penulis mengambil mata kuliah Pengantar Ilmu Administrasi di Salah satu perguruan tinggi Islam tertua di Indonesia, di kota pelajar Jogjakarta, Sekitar tahun 2002-an silam. Saat itu penulis disuruh membuat makalah dengan tema bebas namun tidak keluar dari tema besar dari mata kuliah tersebut… sebagai seorang mahasiswa kala itu tentu semua mahasiswa pasti dan tentunya ingin mendapatkan nilai A+, dan ibarat gayung bersambut, Alhamdulillah ternyata makalah yang penulis buat mendapatkan apresiasi yang luar biasa oleh sang dosen, tentunya penulis sangat senang.
Tema besar yang penulis angkat dimakalah saat itu adalah kekhawatiran penulis terhadap profesi yang dinamakan GURU… kenapa penulis khawatir ? saat itu penulis baru mengenal dunia internet, baru mengenal yahoo, baru demen-demennya dengan dunia chatting, YM-an ( Baca: Yahoo Massengger-an ) walau tidak seasyik ber-Pacebook-an ria, atau ber-Twitter-an ria dan begitu bergembiranya dan sangat bangga ketika mempunyai Email… walau Email saat itu dibikinkan oleh seorang kawan….
Embrio Khawatiran itu semakin membuncah dan terus mengglanyuti pikiran penulis dan mungkin kita semua. Coz, apa saja yang penulis pinta ( informasi, data, berita, ilmu dan semua pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam benak penulis, terjawab oleh onggokan kotak persegi empat yang didalamnya terdapat internet tersebut ). Ini kemudian penulis explorasikan di kumpulan coretan-coretan kecil di atas kertas bernama makalah itu, dan ketika dipresentasikan, menjadikan suasana yang tadi adem ayem aja, menjadi suasana yang hangat, bahkan memanas sampai keubun-ubun pendengarnya…
Kala itu dengan idealisme seorang mahasiswa yang terus membuncah, dengan berani mengatakan dalam presentasi ( dan mungkin sampai detik ini ) bahwa “ posisi seorang guru, seorang ustadz bahkan posisi seorang Kyai sekalipun, akan tergantikan oleh INTERNET dengan segala Contennya “… why…??? Detik ini, kita sadar ataupun tidak, diperkotaan bahkan dipelosok sekalipun, sudah merambah kemana-mana yang namanya internet, akses internet bukan lagi menjadi barang ‘langka’ lagi. Detik ini, orang akan lebih PD bertanya kepada Kyai sepuh “ Kyai Yahoo “ dan Kyai seperguruannya yaitu “ Kyai Google “ dibandingkan dengan pergi ke guru, ustadz bahkan Kyainya, lebih PD bermudzakarah dengan “ Ust Pacebook “, lebih merasa enak dan nyaman dengan “ Ustadzah Twitter”… dalam artian, apapun yang kita cari, kita inginkan, maka Kyai-Kyai tersebut dengan telaten dan sabar menjawab…
Namun suatu saat teman penulis, bingung dan sangat bingung dengan sandalnya yang hilang, dan bilang kepada saya… mas tolong dong carikan sandal saya di Google… hahhh !!! ente majnun ( read : you crazzy), bisik hati kecil saya…
Detik ini, pelan namun pasti… posisi seorang Guru, Ust, Kyai, perlahan dan pelan sekali lagi namun pasti, posisi mereka akan tergantikan. Indikasi itu tercium ketika penulis menjadi guru beneran di tingkatan SMA, ketika mendengar dan melihat oknum guru yang dengan susah payah mempersiapkan materi dengan matang, dengan metode dan strategi yang jitu, ketika sang guru tersebut menjelaskan anak-anak didiknya, mereka lebih memilih “ Ust. Pacebook-nya “ di laptop yang disembunyikan di samping meja… penulis ga tau, apakah metode, strategi yang ditawarkan oleh sang guru tersebut sudah usang ataukah “ Ust. Pacebook “ dengan contentnya yang begitu menggoda ??? , tanyakan saja sama rumput-rumput yang bergoyang, gitu aja repot…
Teeenang pak guru ( baca : dengan logat Batak ), teeenang pak Ust, teeenang pak Kyai, posisi ente ( baca : dengan logat Betawi ) kagak bakalan tergeser, selama ente kagak gaptek ama tu teknologi… posisi ente akan tetap langgeng, langgeng dan langgeng terus ketika listrik padam atawa Kyai Google lagi mengeluarkan Fatwa “ ! Problem loading page… ! Server not found… firefox can’t find the server at www.google.com. Tray again “ Wallahu ‘Alam, wa Ilalliqo’ ma’assalamah, and see you….. END.
www.hirpanjunior.blogspot.com
Tulisan ini terinspirasi ketika penulis mengambil mata kuliah Pengantar Ilmu Administrasi di Salah satu perguruan tinggi Islam tertua di Indonesia, di kota pelajar Jogjakarta, Sekitar tahun 2002-an silam. Saat itu penulis disuruh membuat makalah dengan tema bebas namun tidak keluar dari tema besar dari mata kuliah tersebut… sebagai seorang mahasiswa kala itu tentu semua mahasiswa pasti dan tentunya ingin mendapatkan nilai A+, dan ibarat gayung bersambut, Alhamdulillah ternyata makalah yang penulis buat mendapatkan apresiasi yang luar biasa oleh sang dosen, tentunya penulis sangat senang.
Tema besar yang penulis angkat dimakalah saat itu adalah kekhawatiran penulis terhadap profesi yang dinamakan GURU… kenapa penulis khawatir ? saat itu penulis baru mengenal dunia internet, baru mengenal yahoo, baru demen-demennya dengan dunia chatting, YM-an ( Baca: Yahoo Massengger-an ) walau tidak seasyik ber-Pacebook-an ria, atau ber-Twitter-an ria dan begitu bergembiranya dan sangat bangga ketika mempunyai Email… walau Email saat itu dibikinkan oleh seorang kawan….
Embrio Khawatiran itu semakin membuncah dan terus mengglanyuti pikiran penulis dan mungkin kita semua. Coz, apa saja yang penulis pinta ( informasi, data, berita, ilmu dan semua pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam benak penulis, terjawab oleh onggokan kotak persegi empat yang didalamnya terdapat internet tersebut ). Ini kemudian penulis explorasikan di kumpulan coretan-coretan kecil di atas kertas bernama makalah itu, dan ketika dipresentasikan, menjadikan suasana yang tadi adem ayem aja, menjadi suasana yang hangat, bahkan memanas sampai keubun-ubun pendengarnya…
Kala itu dengan idealisme seorang mahasiswa yang terus membuncah, dengan berani mengatakan dalam presentasi ( dan mungkin sampai detik ini ) bahwa “ posisi seorang guru, seorang ustadz bahkan posisi seorang Kyai sekalipun, akan tergantikan oleh INTERNET dengan segala Contennya “… why…??? Detik ini, kita sadar ataupun tidak, diperkotaan bahkan dipelosok sekalipun, sudah merambah kemana-mana yang namanya internet, akses internet bukan lagi menjadi barang ‘langka’ lagi. Detik ini, orang akan lebih PD bertanya kepada Kyai sepuh “ Kyai Yahoo “ dan Kyai seperguruannya yaitu “ Kyai Google “ dibandingkan dengan pergi ke guru, ustadz bahkan Kyainya, lebih PD bermudzakarah dengan “ Ust Pacebook “, lebih merasa enak dan nyaman dengan “ Ustadzah Twitter”… dalam artian, apapun yang kita cari, kita inginkan, maka Kyai-Kyai tersebut dengan telaten dan sabar menjawab…
Namun suatu saat teman penulis, bingung dan sangat bingung dengan sandalnya yang hilang, dan bilang kepada saya… mas tolong dong carikan sandal saya di Google… hahhh !!! ente majnun ( read : you crazzy), bisik hati kecil saya…
Detik ini, pelan namun pasti… posisi seorang Guru, Ust, Kyai, perlahan dan pelan sekali lagi namun pasti, posisi mereka akan tergantikan. Indikasi itu tercium ketika penulis menjadi guru beneran di tingkatan SMA, ketika mendengar dan melihat oknum guru yang dengan susah payah mempersiapkan materi dengan matang, dengan metode dan strategi yang jitu, ketika sang guru tersebut menjelaskan anak-anak didiknya, mereka lebih memilih “ Ust. Pacebook-nya “ di laptop yang disembunyikan di samping meja… penulis ga tau, apakah metode, strategi yang ditawarkan oleh sang guru tersebut sudah usang ataukah “ Ust. Pacebook “ dengan contentnya yang begitu menggoda ??? , tanyakan saja sama rumput-rumput yang bergoyang, gitu aja repot…
Teeenang pak guru ( baca : dengan logat Batak ), teeenang pak Ust, teeenang pak Kyai, posisi ente ( baca : dengan logat Betawi ) kagak bakalan tergeser, selama ente kagak gaptek ama tu teknologi… posisi ente akan tetap langgeng, langgeng dan langgeng terus ketika listrik padam atawa Kyai Google lagi mengeluarkan Fatwa “ ! Problem loading page… ! Server not found… firefox can’t find the server at www.google.com. Tray again “ Wallahu ‘Alam, wa Ilalliqo’ ma’assalamah, and see you….. END.
www.hirpanjunior.blogspot.com
KYAI ITU BERNAMA “ KYAI GOOGLE “
Maybe yes, maybe no
Tulisan ini terinspirasi ketika penulis mengambil mata kuliah Pengantar Ilmu Administrasi di Salah satu perguruan tinggi Islam tertua di Indonesia, di kota pelajar Jogjakarta, Sekitar tahun 2002-an silam. Saat itu penulis disuruh membuat makalah dengan tema bebas namun tidak keluar dari tema besar dari mata kuliah tersebut… sebagai seorang mahasiswa kala itu tentu semua mahasiswa pasti dan tentunya ingin mendapatkan nilai A+, dan ibarat gayung bersambut, Alhamdulillah ternyata makalah yang penulis buat mendapatkan apresiasi yang luar biasa oleh sang dosen, tentunya penulis sangat senang.
Tema besar yang penulis angkat dimakalah saat itu adalah kekhawatiran penulis terhadap profesi yang dinamakan GURU… kenapa penulis khawatir ? saat itu penulis baru mengenal dunia internet, baru mengenal yahoo, baru demen-demennya dengan dunia chatting, YM-an ( Baca: Yahoo Massengger-an ) walau tidak seasyik ber-Pacebook-an ria, atau ber-Twitter-an ria dan begitu bergembiranya dan sangat bangga ketika mempunyai Email… walau Email saat itu dibikinkan oleh seorang kawan….
Embrio Khawatiran itu semakin membuncah dan terus mengglanyuti pikiran penulis dan mungkin kita semua. Coz, apa saja yang penulis pinta ( informasi, data, berita, ilmu dan semua pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam benak penulis, terjawab oleh onggokan kotak persegi empat yang didalamnya terdapat internet tersebut ). Ini kemudian penulis explorasikan di kumpulan coretan-coretan kecil di atas kertas bernama makalah itu, dan ketika dipresentasikan, menjadikan suasana yang tadi adem ayem aja, menjadi suasana yang hangat, bahkan memanas sampai keubun-ubun pendengarnya…
Kala itu dengan idealisme seorang mahasiswa yang terus membuncah, dengan berani mengatakan dalam presentasi ( dan mungkin sampai detik ini ) bahwa “ posisi seorang guru, seorang ustadz bahkan posisi seorang Kyai sekalipun, akan tergantikan oleh INTERNET dengan segala Contennya “… why…??? Detik ini, kita sadar ataupun tidak, diperkotaan bahkan dipelosok sekalipun, sudah merambah kemana-mana yang namanya internet, akses internet bukan lagi menjadi barang ‘langka’ lagi. Detik ini, orang akan lebih PD bertanya kepada Kyai sepuh “ Kyai Yahoo “ dan Kyai seperguruannya yaitu “ Kyai Google “ dibandingkan dengan pergi ke guru, ustadz bahkan Kyainya, lebih PD bermudzakarah dengan “ Ust Pacebook “, lebih merasa enak dan nyaman dengan “ Ustadzah Twitter”… dalam artian, apapun yang kita cari, kita inginkan, maka Kyai-Kyai tersebut dengan telaten dan sabar menjawab…
Namun suatu saat teman penulis, bingung dan sangat bingung dengan sandalnya yang hilang, dan bilang kepada saya… mas tolong dong carikan sandal saya di Google… hahhh !!! ente majnun ( read : you crazzy), bisik hati kecil saya…
Detik ini, pelan namun pasti… posisi seorang Guru, Ust, Kyai, perlahan dan pelan sekali lagi namun pasti, posisi mereka akan tergantikan. Indikasi itu tercium ketika penulis menjadi guru beneran di tingkatan SMA, ketika mendengar dan melihat oknum guru yang dengan susah payah mempersiapkan materi dengan matang, dengan metode dan strategi yang jitu, ketika sang guru tersebut menjelaskan anak-anak didiknya, mereka lebih memilih “ Ust. Pacebook-nya “ di laptop yang disembunyikan di samping meja… penulis ga tau, apakah metode, strategi yang ditawarkan oleh sang guru tersebut sudah usang ataukah “ Ust. Pacebook “ dengan contentnya yang begitu menggoda ??? , tanyakan saja sama rumput-rumput yang bergoyang, gitu aja repot…
Teeenang pak guru ( baca : dengan logat Batak ), teeenang pak Ust, teeenang pak Kyai, posisi ente ( baca : dengan logat Betawi ) kagak bakalan tergeser, selama ente kagak gaptek ama tu teknologi… posisi ente akan tetap langgeng, langgeng dan langgeng terus ketika listrik padam atawa Kyai Google lagi mengeluarkan Fatwa “ ! Problem loading page… ! Server not found… firefox can’t find the server at www.google.com. Tray again “ Wallahu ‘Alam, wa Ilalliqo’ ma’assalamah, and see you….. END.
www.hirpanjunior.blogspot.com
Tulisan ini terinspirasi ketika penulis mengambil mata kuliah Pengantar Ilmu Administrasi di Salah satu perguruan tinggi Islam tertua di Indonesia, di kota pelajar Jogjakarta, Sekitar tahun 2002-an silam. Saat itu penulis disuruh membuat makalah dengan tema bebas namun tidak keluar dari tema besar dari mata kuliah tersebut… sebagai seorang mahasiswa kala itu tentu semua mahasiswa pasti dan tentunya ingin mendapatkan nilai A+, dan ibarat gayung bersambut, Alhamdulillah ternyata makalah yang penulis buat mendapatkan apresiasi yang luar biasa oleh sang dosen, tentunya penulis sangat senang.
Tema besar yang penulis angkat dimakalah saat itu adalah kekhawatiran penulis terhadap profesi yang dinamakan GURU… kenapa penulis khawatir ? saat itu penulis baru mengenal dunia internet, baru mengenal yahoo, baru demen-demennya dengan dunia chatting, YM-an ( Baca: Yahoo Massengger-an ) walau tidak seasyik ber-Pacebook-an ria, atau ber-Twitter-an ria dan begitu bergembiranya dan sangat bangga ketika mempunyai Email… walau Email saat itu dibikinkan oleh seorang kawan….
Embrio Khawatiran itu semakin membuncah dan terus mengglanyuti pikiran penulis dan mungkin kita semua. Coz, apa saja yang penulis pinta ( informasi, data, berita, ilmu dan semua pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam benak penulis, terjawab oleh onggokan kotak persegi empat yang didalamnya terdapat internet tersebut ). Ini kemudian penulis explorasikan di kumpulan coretan-coretan kecil di atas kertas bernama makalah itu, dan ketika dipresentasikan, menjadikan suasana yang tadi adem ayem aja, menjadi suasana yang hangat, bahkan memanas sampai keubun-ubun pendengarnya…
Kala itu dengan idealisme seorang mahasiswa yang terus membuncah, dengan berani mengatakan dalam presentasi ( dan mungkin sampai detik ini ) bahwa “ posisi seorang guru, seorang ustadz bahkan posisi seorang Kyai sekalipun, akan tergantikan oleh INTERNET dengan segala Contennya “… why…??? Detik ini, kita sadar ataupun tidak, diperkotaan bahkan dipelosok sekalipun, sudah merambah kemana-mana yang namanya internet, akses internet bukan lagi menjadi barang ‘langka’ lagi. Detik ini, orang akan lebih PD bertanya kepada Kyai sepuh “ Kyai Yahoo “ dan Kyai seperguruannya yaitu “ Kyai Google “ dibandingkan dengan pergi ke guru, ustadz bahkan Kyainya, lebih PD bermudzakarah dengan “ Ust Pacebook “, lebih merasa enak dan nyaman dengan “ Ustadzah Twitter”… dalam artian, apapun yang kita cari, kita inginkan, maka Kyai-Kyai tersebut dengan telaten dan sabar menjawab…
Namun suatu saat teman penulis, bingung dan sangat bingung dengan sandalnya yang hilang, dan bilang kepada saya… mas tolong dong carikan sandal saya di Google… hahhh !!! ente majnun ( read : you crazzy), bisik hati kecil saya…
Detik ini, pelan namun pasti… posisi seorang Guru, Ust, Kyai, perlahan dan pelan sekali lagi namun pasti, posisi mereka akan tergantikan. Indikasi itu tercium ketika penulis menjadi guru beneran di tingkatan SMA, ketika mendengar dan melihat oknum guru yang dengan susah payah mempersiapkan materi dengan matang, dengan metode dan strategi yang jitu, ketika sang guru tersebut menjelaskan anak-anak didiknya, mereka lebih memilih “ Ust. Pacebook-nya “ di laptop yang disembunyikan di samping meja… penulis ga tau, apakah metode, strategi yang ditawarkan oleh sang guru tersebut sudah usang ataukah “ Ust. Pacebook “ dengan contentnya yang begitu menggoda ??? , tanyakan saja sama rumput-rumput yang bergoyang, gitu aja repot…
Teeenang pak guru ( baca : dengan logat Batak ), teeenang pak Ust, teeenang pak Kyai, posisi ente ( baca : dengan logat Betawi ) kagak bakalan tergeser, selama ente kagak gaptek ama tu teknologi… posisi ente akan tetap langgeng, langgeng dan langgeng terus ketika listrik padam atawa Kyai Google lagi mengeluarkan Fatwa “ ! Problem loading page… ! Server not found… firefox can’t find the server at www.google.com. Tray again “ Wallahu ‘Alam, wa Ilalliqo’ ma’assalamah, and see you….. END.
www.hirpanjunior.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)